Antara Ustadz lupa tetangga dan artis pengumbar aurat


Aku tinggal didaerah tangerang, suatu hari aku maen ketempat temenku di sEputaran tangerang, dimana rumah dia dekat dengan pesantren yang sang kyai cukup terkenal dan banyak punya pengagum. Iseng-iseng ku tanya ke temenku eh si pemilik pesantren tuh kalo sholat dimana?
Apa jawab temenku, si ustadz  mah sholat di tempat dia sendiri kalau gak ada yang manggil, manggil pun kalo gak amplop tebel jg gak mau datang. Aku terkejut mendengar jawaban itu, masak seorang ustadz aja kayak seorang artis gitu, dengan tetangga sendiri saja gak mau kenal.
Temenku malah menambahi waktu ada pengajian dikampung si ustadz diminta mengisi acara tersebut, si ustad menjawab dengan kata ajaib ‘ Insyaallah ‘, ternyata pada hari H si ustad tidak datang, dengan alasan ada job diluar pulau. Aku sungguh terkejut dengan jawaban itu kok seorang yang memiliki kelebihan ilmu malah mengabaikan masyarakat skitarnya.
Saya pernah belajar dan membaca bahwa tetangga adalah saudara, tapi kenapa seorang ustadz telah melupakan hal itu? Apakah materi yang jadi tujuan?
Atau ketenaran dia didunia?
Wallohua’lam kita semua hanya bisa menebak, hanya sang ustadz yang bisa menebak.
Kalau begitu apa beda artis yang berpakaian terbuka kekurangan bahan dengan seorang ustadz kalau begitu, mereka sama-sama manusia yang sudah banyak melupakan pelajaran bersosial dan bermasyarakat. Kalau begitu gak ada gunanya ustadz seperti itu jadi panutan, lebih baek blajar sama ustadz kampung yang masih bisa diajak kerja bakti dari pada ustadz yang sudah banyak melupakan tetangga sekitarnya. Kehancuran umat ditangan ustadz seperti itu. Semoga kesadaran bisa diraih sang ustadz dan kembali kejalan Allah. Amiin

2 Responses to Antara Ustadz lupa tetangga dan artis pengumbar aurat

  1. imranxrhia says:

    klo itu mah bkan ustadz, tp tukang ceramah… Bdw qta ndak bs langsung memvonis, toh blm tntu anggapan qta bnar

    • iya gan memang kita gak bisa memvonis begitu saja, masih banyak kok ustadz baek yang bisa jadi panutan. jika dikehidupan sehari-hari saja gak bisa beri contoh ya buat apa kita jadikan panutan betul gak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: